Rabu, 13 Februari 2013

Kotak Pandora

Layar warna-warni itu selalu kau tatap tiap hari
Jemari telunjuk dan tengahmu buat jemari lain iri
Sebelum tahun 2004 tak ada semua ini
Dan tahun 2006 semua semakin menjadi-jadi

Dulu orangtuamu tak kenal dan maka mereka tak sayang
Sekarang mereka tak hanya kenal, mereka terganyang
Tenggelam dalam bunyi "klik, klik dan klik"
Biar bayi tenggelam, biar jemuran hilang mereka tetap saja asyik

Bruuummm...Semburan Knalpotmu Mengacaukan Hatiku

Bruuummm…bruuuummm…suara knalpot motor sport terkini meraung-raung di depanku. Suaranya keras, cenderung membuat bising tapi tak begitu mengganggu perjalananku di tengah padatnya lalu lintas Jakarta waktu jam berangkat kerja di pagi hari.

Hanya satu hal yang selalu menggodaku untuk mengucapkan kata “asu” dan kawan-kawannya terkait keberadaan knalpot itu: semburan.

Hampir setiap pagi aku menjumpai pemotor yang memodifikasi knalpotnya, dari standar menjadi besar dengan suara lantang dan semburan yang dahsyat, yang mungkin menurut mereka adalah sesuatu yang keren, jantan. Jalanan yang macet dari Bekasi ke Jakarta Barat memaksaku untuk sesekali merasakan semburan udara dari knalpot-knalpot itu.

Untung aku rajin mengenakan masker dan menutup kaca helm. Kalau tidak? Seperti ibu yang berjalan beriringan denganku tadi pagi?

Parahnya, sejauh pengamatanku, pemotor yang menggunakan knalpot semacam ini selalu memainkan gas di jalan raya. Apalagi saat kendaraan harus mengantre akibat penuhnya jalan oleh motor dan mobil. Entah apa maksudnya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah mereka tidak sadar bahwa kelakuan mereka di jalan itu amat tidak beretika dan bahkan sangat mengganggu pengguna jalan lain? Ataukah mereka sadar namun tidak memedulikan hal tersebut? Apakah polisi berhak menilang pemotor seperti itu? Jika iya, kenapa polisi tidak merazia saja toko atau bengkel yang menjual knalpot seperti itu?

Separah itukah hukum, perilaku, kesadaran, dan empati yang ada di ibukota tercinta ini? Ahhh...semburan knalpotmu mengacaukan hatiku...

Selasa, 12 Februari 2013

Penyakit Akut Media Daring

Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring pernah mengatakan bahwa insan pers harus bisa menyikapi kemajuan teknologi dalam kaitannya dengan tugas utama mereka, yakni menyampaikan informasi yang benar dan berkualitas.

Kemajuan teknologi harus disikapi agar pers bisa turut serta membangun karakter bangsa. Begitu menteri yang mengaku kerap dicerca di media sosial ini berpendapat.

Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat Pak Menteri. Dan saya yakin benar media-media di Indonesia bukanlah penganut Neoluddisme. Mereka pasti telah mengambil sikap di tengah bergeloranya semangat untuk memajukan teknologi. Namun sepertinya banyak di antara mereka yang luput ketika mempraktikkan sikap tersebut.

Media massa turut beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Buktinya, tren media telah beralih ke dunia digital. Pelaku bisnis di bidang media cetak berlomba-lomba mengikuti tren dengan membuka cabang di internet. Majalah cetak pun punya versi digital.  Kemudian, muncul pula pelaku bisnis media yang sebetulnya awam terhadap dunia pers: narablog.

Berkat Google dan Matt Mullenweg, banyak orang yang memutuskan membuat medianya sendiri tanpa harus menganut ideologi anti-mainstream.  Blog-blog ini memuat berita nasional, informasi tips, hingga berita internasional. Namun karena terbentur pengalaman dan kemampuan, banyak blog yang menabrak garis aturan yang berlaku di dunia pers.

Ya, mungkin mereka tak bisa sepenuhnya disalahkan karena mereka tak ada bekal soal bagaimana cara menyampaikan informasi menurut kode etik jurnalistik. Bahkan mungkin banyak yang tak tahu apa itu kode etik jurnalistik.

Kesalahan-kesalahan yang kerap dibuat para narablog selain mengesampingkan aturan 5W+1H antara lain adalah pemberitaan yang tidak berimbang, salah mencerna informasi dari media berbahasa asing, hingga keliru saat mengetik huruf.

Tapi para narablog punya jurus untuk menjawab kritik soal kesalahan-kesalahan ini: Memangnya media daring yang lebih profesional tak pernah salah?

Sayangnya, di dalam media daring yang wartawannya tergabung dalam komunitas pers yang diakui secara nasional, masih bisa ditemukan kesalahan-kesalahan dasar seperti yang dilakukan para narablog. Yang paling sering: salah ketik atau acap disebut typo.

Saya tidak tahu pasti bagaimana proses suatu berita di media daring bisa sampai dimuat hingga akhirnya dibaca oleh khalayak. Apakah prosesnya sama seperti media cetak?

Dari cerita kawan saya yang berkarya sebagai wartawan media cetak, proses yang dijalani sebelum berita naik cetak lumayan panjang. Salah satunya adalah pemeriksaan tulisan oleh redaktur yang biasanya juga berperan sebagai penyunting bahasa. Di sini, redaktur bisa mengembalikan tulisan kepada wartawan apabila dianggap tidak layak muat. Bila ada salah ketik, redaktur akan mengoreksinya.

Bagaimana dengan media daring? Saya hanya bisa berasumsi. Di beberapa media daring yang kerap saya baca seperti Kompas.com, Detik.com, Tempo.co, dan Viva.co.id (sebelumnya Vivanews), saya sering melihat ada dua nama atau inisial di bagian akhir tulisan. Artinya, ada wartawan dan ada pula editor/redaktur yang berperan dalam penerbitan tulisan tersebut. Namun, ternyata tulisan yang terbit di media daring banyak yang “cacat” dalam urusan bahasa.

Karakteristik media cetak dan media daring memang berbeda. Media daring lebih mengutamakan soal kecepatan pemuatan berita. Namun, apakah lantas alasan tersebut bisa membenarkan kesalahan-kesalahan dalam tulisan yang dimuat?

Masalah bahasa mungkin terdengar sepele. Mungkin ada yang berpendapat, “Ah, kan masih bisa ditebak itu kata yang salah ketik maksudnya apa..”

Tetapi persoalannya bukan soal tebak-tebakan kata. Dalam hal ini, redaktur dan wartawan gagal menjalankan tugas dalam usahanya menyampaikan berita yang benar dan berkualitas hanya demi traffic. Bahkan demi traffic pula, ada media yang memecah satu tulisan menjadi dua, tiga, atau bahkan empat. Hasilnya, satu judul bisa jadi hanya memuat tiga atau empat paragraf. Sangat pendek dan tidak jelas.

Heru Margianto, seorang pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, pernah berujar dalam suatu diskusi yang membahas media daring, “Demi mengejar kecepatan, akurasi dan verifikasi menjadi terabaikan”. Padahal, akurasi dan verifikasi seharusnya mutlak menjadi perhatian utama semua insan pers.

Saya tak ada niat menggurui. Apa pula kuasa saya hingga boleh memberikan pelajaran tambahan? Kapasitas saya di sini hanyalah sebagai seorang pembaca media daring yang terganggu dan kecewa. Saya berharap tren buruk ini bisa berubah, dengan atau tanpa arahan Pak Menteri Tifatul…Dan sekadar informasi, saya bukan termasuk salah satu pengikut Pak Menteri di Twitter.

Detik.com
Kompas.com
Tempo.co
Tempo.co
Viva.co.id
 
 
 

Sabtu, 29 Oktober 2011

Penjahit Freelance

Ini bukan sepeda tapi aku genjot. Ini bukan becak tapi bertiga roda. Ini buatku dan keluargaku bisa makan, dengan menusuk-nusuk celana orang.

Jumat, 28 Oktober 2011

Wiji is Dead!!!


Another day, another hard work
The birds still fly, and I can only berserk

There Wiji stands in the middle of the street
Waiting for the sun, even though hurt is his feet

These people know that the earth is round
But these idiot people've been lost and will never be found

They run, they run, and run and run
They rush, they rush and then they crush

The sun is so stupid it stings me in the head
I don't know how to say but Wiji is about to bet

He screams, he screams and screams and screams
They kick, he screams, they punch, Wiji stopped screaming

Wiji is dead!!
"No, not quiet," they said
Wiji is dead!!

"Dead!!!" they drank his blood.

Kamis, 27 Oktober 2011

Aku Bangsat!

Jadi terbang melayang mengumbar jalang
Tak mau kenal ayah,ibu, hidup sembarang
Bukan sengaja
Bukan dibuat-buat
Kami sengaja dibuat

Ayah...
Ibu...
Kenapa kau sisakan sampah dalam hidupku?
Sampaikan salamku pada Kakek dan Nenek, sampaikan salamku pada orangtua mereka, pada orangtuanya orangtua mereka pula, pada semua orang yang ada sebelum mereka

Aku hidup sengaja dibuat!
Menderita karena asap!
Tiap hari bercumbu tanpa boleh merasakan nikmat!
Bangsat!

Aku harus bayar utang yang kalian tinggalkan
Bukan aku tak sayang,
Bukan aku mencoba menjadi durjana,
Tapi kalian memang bangsat!

Uang kalian tak ada gunanya kalau aku harus membayar utang dengan nyawa
Uang kalian bawa saja semua!

Aku takut menjatuhkan spermaku ketika bersenggama
Aku takut anakku kelak murka pula
Aku takut disebut bangsat!


Aku mau semua hidup demi hidup sesama
Biar anak kita tak bisa menjadikan kita bangsat
Agar anak kita tak dijadikan bangsat
Oleh anak-cucunya

Selasa, 25 Oktober 2011

Uang Adalah Candu

kamu punya uang berapa?
bisakah kamu membeli surga?
aku tak punya uang
tapi setauku di surga tak perlu uang

lalu kenapa kamu bekerja?
kenapa ada bank?
kenapa orang mengumpulkan uang?
bukankah semua orang ingin ke surga?

Rabu, 06 Juli 2011

Polangtas Menjadikan Aku Terdakwa

Hari ini aku resmi menjadi terdakwa. Bukan terdakwa atas kasus pembunuhan. Pun bukan pengeboman atau pelecehan Presiden. Hari ini aku resmi menjadi terdakwa setelah "ditangkap" polisi tilang lalu lintas (polangtas). Begini ceritanya: Di sore yang gelap oleh awan mendung itu aku sedang dalam perjalanan menuju Harapan Baru, Bekasi. Dengan baju dimasukkan ke celana jins biru, berjaket hitam, dan bersepatu Vans KW I aku melintasi jalan di depan mal Ambassador yang macet bukan kepalang. Ketika hendak tiba di mulut terowongan casablanca yang konon seram di kala malam setelah lega telepas dari macet tiba-tiba aku diberhentikan oleh seorang petugas polangtas. Ternyata ada 3 atau 4 polangtas di situ, kalau aku tidak silap, yang sedang mengadakan razia.

"Selamat sore, Pak, kami dari dinas penindakan lapangan, bisa lihat surat-suratnya?" sapa seorang polangtas yang berwajah garang, legam. Tak ada kumis, tak ada jambang. Hanya keringat yang mengalir ke sana ke mari. Resamnya besar namun sedikit gembul. Seragam coklatnya ditutup rompi berwarna hijau. Aku tak dapat melihat siapa namanya.

Aku keluarkan SIM dan STNK dari dompet. Setelah mengecek surat-surat si polangtas lalu berucap, "Bapak tidak menyalakan lampu kendaraan." "Ini pasal dan dendanya," lanjutnya sambil menunjukkan satu halaman dari buku saku yang berisi pasal-pasal.

"Wah, iya ... maaf, Pak, lupa," kataku setelah terbelalak melihat jumlah denda yang seratus ribu rupiah itu.

"Jadi, gimana ini?" sepertinya ia mengajak "berdamai"..

"Saya ga bawa duit, Pak," aku berkelit berharap lepas dari cengkeraman manusia berseragam ini. "Ada cuma tujuh ribu ni," kataku sambil menunjukkan dompet yang memang kosong.

"Ga bisa, dua puluh ribu atau dua puluh lima ribu deh, cepetan, itu ada Komandannya, saya mau nangain yang lainnya," ia memburu.

Terkejut dengan ucapannya, aku berkata, "Emang kenapa kalo ada Komandan, Pak?"

Ia tak menjawab. "Ya sudah, ikut sidang aja," katanya sambil cepat-sepat menulis sesuatu di lembar surat tilang.

"Wah, Pak, ini tujuh ribu saya punyanya," ucapku sekali lagi mencoba berkelit.

"Udah, sini tanda tangan," dia menyodorkan surat tilang yang sudah terisi lengkap.

"Ga mau, Pak," aku berontak.

"Kamu ini .... Ya sudah, nih, tar diurus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan," ia mengembalikan STNK sambil melampirkan surat tilang yang ia tanda tangani sendiri. "XX" tanda tangannya. SIM-ku disita.

Aku terima STNK tapi masih membujuk agar SIM-ku dikembalikan. Kucoba sodorkan uang 20ribu. Cuma sebagai pancingan, tak rela uangku melayang begitu saja ke kantong polangtas ini.

"Kamu mau nyuap ya?" ia berteriak.

Dalam hati aku tertawa. Bukankah ia tadi yang minta uang? Dari 100ribu turun menjadi 20ribu atau 25ribu.

"Ga bisa, urus di pengadilan, sudah terlanjur dibuatin surat tilang," katanya sambil melihat uang yang berwarna hijau ini. Nada sesal terdengar dari ucapannya. Ia kemudian cepat-cepat pergi untuk "menangani" pengendara lainnya.

Aku kesal. "Sial!" umpatku dalam hati.

Tak sampai semenit kemudian sang Komandan menghampiri. "Pak, motornya diminggirin dikit, tar ketabrak lho," katanya sambil tersenyum kecil.Sang Komandan regu razia ini wajahnya cool dan ganteng. Mirip anggota DPR seandainya ia berjas dan berdasi. Usianya mungkin 50-an. Tampak lebih makmur ketimbang polangtas yang menyita SIM-ku tadi.

Aku tak menghiraukan peringatannya.Kutuntun motorku melewati Pak Polangtas yang berwajah garang tadi. Ingin kufoto ia lalu kumasukkan ke catatan yang sudah kurencanakan akan kutulis ini. Namun sayang tak dapat kuambil gambarnya.

"Ngapain kamu? Banyak ulah aja," hardiknya ketika aku hendak mengambil gambarnya dengan kamera hp yang cuma 3,2 megapiksel ini. "Sudah sana, pergi," ia mengusirku.

"Loh, salah saya apa, Pak?" aku tak mau pergi.

"Ngapain foto-foto itu?" ia membentak. Ia kemudian membelakangiku, tak mau ku ambil gambarnya.

Aku lalu mengambil gambar dengan diam-diam. Polangtas lain yang berkacamata hitam mengawasiku. Aku tahu matanya mengarah padaku walau ia memakai kacamata hitam. Alhasil, jepretanku cuma satu. Itu pun nge-blur.

Aku lalu melanjutkan perjalanan dengan hati mendongkol. Kecewa dengan sikap para pengayom masyarakat itu. Memang aku pernah ditilang juga dulu. Tapi dulu jelas salahku: naik motor melawan arus. Sekarang? Lampu motor jadi alasan? Memang peraturan soal lampu motor harus menyala di siang hari sudah jadi hukum yang berlaku. Tapi aku tetap merasa ada yang aneh dengan peraturan ini. Kalau tidak salah, peraturan ini diadopsi dari negara-negara maju di mana pengendara motor adalah minoritas. Pengendara motor wajib menyalakan lampu di siang hari ketika musim dingin tiba. Hal ini berguna sekali bagi para pengendara kendaraan beroda empat karena mereka akan menjadi lebih awas oleh adanya cahaya dari lampu motor. Tapi ini Indonesia, Bung! Negara dunia ke-3, kalau tak mau dikatakan terkebelakang. Surga bagi para produsen motor. Siang bisa terik setengah mati.

Apakah angka kecelakaan lalu lintas benar bisa berkurang? Beberapa orang mengeluh kalau lampu di siang hari malah menyilaukan mata. Aki juga cepat soak. Boros energi. Dan kalau memang terbukti bisa mengurangi, kenapa Polri tidak menghubungi produsen kendaraan bermotor beroda dua agar memasang lampu nyala otomatis ketika pengendara menyetarter kendaraanya ((Daytime Running Lights )? Nanti tinggal pengendara yang mengatur tinggi-rendah arah sorotnya saja, lampu ikut menyala ketika mesin menyala.

Tentang si polangtas, kenapa tak sedari awal ia menegur soal lampu? Mungkin lain ceritanya kalau ia berkata begini: "Maaf, Pak, Anda tidak menyalakan lampu kendaraan di siang hari. Bisa saya lihat surat-suratnya?" Jadi jelas kesalahan dari awal. Dalam kasusku ia mengecek dulu surat-surat dulu. Ketika surat-surat didapati lengkap barulah ia mendaratkan dakwaan soal lampu. Wajarlah kalau aku menduga ia cuma cari-cari alasan. Dan soal "penyuapan" itu? Ha-ha-ha. Konyol sekali. Sekarang polangtas jadi punya "amunisi cadangan". Kalau surat dan onderdil kendaraan lengkap, lampu motor jadi sasaran. Aku berani bertaruh sebagian besar pengguna motor di Indonesia tidak menyalakan motor di siang hari. Entah disengaja entah tidak.

Sekianlah. Surat tilang sudah di tangan. Pengadilan menanti tanggal 17 Juni ini. "Cuma 20ribu kok di pengadilan," kata sang Komandan sebelum aku pergi meninggalkan TKP.

Ketika gurunya sewenang-wenang, Soe Hok-gie pernah berkata: "Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu". Seturut kata Hok-gie aku pun merasa demikian terhadap para polangtas ini. Mereka lebih mementingkan razia (yang hanya dilakukan oleh 3-4 petugas) padahal jalan di depan mal Ambassador yang mungkin cuma 50 meter dari TKP sedang macet semacet-macetnya. Tak secuil pun polisi ada di sana mengatur lalu lintas. Cih!

Jumat, 20 Mei 2011

Batja Toelis




Ah, lama kali tak ku goreskan sesuatu di sini. Hidup ini memang laknat. Hidup ini ironi. Lari sana-sini. Putar otak tiada henti. Dan manusia cuma bisa menghakimi. Laknat kau hidup!

Sudah kuselesaikan koreksian buku Pramoedya Ananta Toer Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid 1. Satu-satunya buah karya PAT yang bukan fiksi. Buku yang mengibakan, menyedihkan. Sedih sekali membaca pengalaman para tapol semasa pengkerdilan di Pulau Buru. Badan mereka dikerdilkan. Pun jiwa mereka. Beruntung PAT ada di sana. Beruntung bagi mereka. Kekuatan tulisan PAT sungguh mengena. Sedih di hati tak urung menyapa.

Namun kesedihan menerpa tak hanya ketika membaca bagaimana para tapol disiksa, dianiaya, dihina, dibuat tak berdaya. Sedih terasa ketika mengetahui para tentara yang bebuat semaunya. Mereka mencuri atas nama Pancasila. Mereka menyiksa atas nama Pancasila. Mereka membunuh atas nama Pancasila. Dan, agama. Menyedihkan sekali bukan? Bukan, bukan sedih yang itu. Bukan sedih terus menangis karena iba. Bukan sedih terus menangis karena terluka. Mereka menyedihkan. They're pathetic!

Begitu tak berharganya nyawa manusia sehingga bisa dimain-mainkan seperti itu. Disuruh buka lahan dengan tangan kosong. Bangun barak dengan tenaga tak berbayar. Apel. Pukul satu-satu. Tendang satu-satu. Bunuh satu-satu. Menyedihkan membayangkan para tapol dibangunkan d tengah malam. Disuruh kumpul berbaris berbanjar. Buka baju buka celana kala udara dingin Buru menerpa. Gelap malam tak bisa menutupi muka para tentara yang beringas, murka. Para tapol satu per satu ditendang kakinya. Dipukul perutnya. Dipopor kepalanya. Hey, bukankah senjata itu dibeli untuk melindungi rakyat? Sinting benar yang memberi perintah para tentara ini. Tentara sekali diberi perintah oleh atasan, benar atau salah harus dilakukan. Tentara tak boleh mengkritik atasan. Kalau mengkritik haram hukumya. Bisa hilang nyawa sia-sia. Masih mendingan PKI dengan KOKnya. Walau Tan Malaka akhirnya dicap Trotsky-nya Indonesia juga. Meski Njoto pun tak diperbolehkan ikut serta dalam rencana.

Orde Baru kala itu memang sedang sekuasa-kuasanya. Titah Jendral Suharto haruslah terlaksana. Kalau tidak buruk jadinya. Sepertinya yang sedang mejelma jadi raja jawa bukan Sukarno. Cuma raja yang satu ini konon seorang petani juga. Aku tak merasakan bagaimana hebatnya Orde Baru. Sewaktu reformasi menggema dan mencapai puncak pada 1998 aku sedang kelas 5. Waktu itu terkesima bagaimana sebuah kota bisa porak-poranda hanya dalam hitungan hari. Bukan hari, jam. Aku yang sangat nakal sewaktu kanak-kanak ikut serta, menjarah dan melempar rumah gedongan yang di luarnya tertulis kata-kata "Pribumi asli". Tak tahu aku apa arti kata-kata itu. Yang aku tahu orang-orang di sekitarku, para Mas-mas dan Pakdhe-pakdhe, pada melempari rumah, menjarahi toko, membakari mobil di jalanan. Aku ikut menjarah. Dapat beras sekarung, tapi aku tinggal. Berat, tak mampu kubawa.

Baru-baru ini konon diadakan survei dan hasilnya sungguh mengejutkan: Survei melibatkan 1.200 orang, 36,54 persen responden dari seluruh Indonesia memilih Suharto sebagai presiden favorit. Sinting! Aku memang tidak "hidup" di jaman Orde Baru. Tapi dengan membaca buku-buku soal Lekra, PKI, Udin wartawan Jogja yang malang itu, Wiji Thukul, aku tahu bagaimana Suharto memperlakukan bangsa ini. Bangsa yang konon kaya raya ini. Masih konon bagiku. Mungkin yang tahu pasti cuma Freeport, Exxon dan para anggota DPR yang lebih suka bangun gedung baru di Jakarta daripada sekolah baru di Manokwari sana. Sebentar, Manokwari di Indonesia kan ya?

Seandainya semua orang baca puisinya Chalik Hamid buat Suharto. Lain kali aku akan tulis di sini puisi yang merupakan "Doa" dari Chalik Hamid, sastrawan Lekra, yang hidupnya terlunta-lunta berkat program "Proyek Kemanusiaan, Repelita, P4, dan lainya buat sang Jendral yang selalu tersenyum itu. Akan sangat lebih baik lagi kalau mereka baca buah-buah karya PAT.

Hari ini sudah dapat Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid 2. Semoga bisa terlaksana. Terlaksana sebaik-baiknya.

Minggu, 13 Maret 2011

Fundamentalisme=taik kucing

coba main-main ke YahooAnswer di forum Agama dan Kepercayaan,isinya taik kucing semua...saling menghujat..tapi ada juga yang tak mau ambil pusing..agamaku adalah agamaku dan agamamu adalah agamamu...aku makin muak pada agama dan kepercayaan...fundamentalisme religius dan fundamentalisme sekuler sama saja...taik kucing...
apalagi mereka yang memimpikan dunia yang homogen...sebenarnya mereka ga perlu bermimpi...cukup kumpulkan orang yang punya mimpi sama, bikin pernyataan tertulis pada pemerintah, minta satu pulau biar dihuni mereka sendiri, yang sistem pemerintahannya mereka anggap paling benar...ancam saja, apabila pemerintah ga mau beri pulau, mereka bakal bunuh semua orang yang berseberangan keyakinannya..kalau pemerintah ga mau beri pulau, berarti memang bebal tu pemerintah..revolusi saja, seperti yang kalian teriakkan itu...kalau berani sih...idealis aja dari dulu onanis mulu...kebanyakan diskusi..kalau revolusi, ya bikin organisasi yang merantai, koordinasi...fundamentalis kok kompromis..taik kucing...

Minggu, 06 Maret 2011

Sekali lagie terbelalak. Gie memang galak. Kalau sekarang masih hidup bagaimana jadinya? Dulu musuh "cuma" Sukarno dan duit. Sekarang Sukarno udah ga ada. Soeharto mati juga. Duit masih. Tapi ada Facebook, TV, lagu pop pesimis pasif dan optimis kontradiktif. Musuh semakin berat. Dulu ada 2 manusia: idealis dan apatis. Sekarang manusia ada 3: idealis onanis, idealis pasif, apatis. Oportunis masih ga termasuk manusia. Neraka tempatnya. Itupun jika neraka benar ada.
Hari ini melelahkan. Hari ini Minggu, tapi seperti hari biasa aku bangun jam 5, lalu bersiap-siap untuk beraktivitas. Aku ada janji bertemu kekasih, ke gereja kemudian donor darah, setelah itu dokter giginya. Ke gereja. Aktivitas ini agak malas aku melakukan. Aku di KTP beragama Katolik, tapi aku merasa agama gagal menjad alat pendisiplin manusia. Hubungan spiritual adalah personal. Aku punya tuhanku sendiri. Selama aku bisa mencapai kepuasan spiritual dengan cara lain, aku tak ragu meninggalkan ajaran yang dilolohkan sejak aku lahir itu. Aku semakin hari semakin ragu tentang keberadaan Tuhan. Aku tak membaca Alkitab, tapi aku rasa tak harus menghafalkan kitab suci itu untuk menentukan apakah percaya pada-Nya atau tidak. Realitas yang membuatku percaya akan sesuatu. Manusia semakin lama semakin hina, termasuk aku. Modernisasi semakin menjerumuskan orang pada individualisasi. Teknologi menawarkan hubungan sosial yang artifisial. Teman banyak, tapi artifisial.

Siang. Sepulang donor darah setelah selesai misa, aku pulang ke rumah kekasih. Setelah makan dan istirahat sekejap, kami berkendara ke tempat dokter gigi. Rencana semula jam 12.00 bertemu, namun ternyata si dokter menunda, bertemu jadi jam 15.30. Kami sudah di jalan. Lumayan mendongkol juga. Di jalan panas bukan kepalang, tapi inilah Jakarta. Orang-orang Jakarta sungguh menarik. Di jalanan, orang-orang sepertinya selalu diburu waktu. Mengebut adalah hal yang lumrah. Pertama kali berkendara motor di Jakarta, aku masih terbawa kebiasaan di berkendara di Jogja dan Solo, dengan moto alon-alon waton kelakon. Tapi di Jakarta, alon-alon dan kaupun pasti diklakson. Alhasil, aku jadi sering kencang, tapi tidak mengebut. Aku takut.

Setelah istirahat dan minum es campur di kos, kami kembali menuju ke tempat dokter gigi yang tadi siang menunda bertemu. Kami datang jam 15.25. Dokter masih ada pasien. Kami menunggu sampai jam 4.00. Setelah pasien yang sebelumnya keluar, giliran kekasihku diperiksa. Giginya tidak rata, ada ginsul seperti aku. Dia sudah pakai kawat gigi biar rapi sejak di Jogja. Setelah selesai kuliah, dia kerja di Jakarta. Orangtuanya tinggal di Bekasi tapi asli Jogja.

Aku menunggu sambil baca buku. Kira-kira 1 jam, dokter sudah selesai periksa. Entah diapakan, tapi uang 500 ribu rupiah harus dibayarkan sebagai biaya jasa. Aku terbelalak. Uang sebanyak itu hilang sekejap dalam 1 jam hanya untuk usaha merapikan gigi? Berapa banyak buku yang bisa dibeli dengan uang sebanyak itu? Dokter usianya 32, sepertinya hidupnya sangat berada. Dia gemuk, rambutnya ikal diikat pendek, wajahnya bulat, pakai kacamata frame hitam tampak mewah. Enak juga kerja jadi dokter. Bisa kerja pakai kaos Bali, sandal kasual. Entah berapa biaya yang dikeluarkan untuk jadi seorang dokter gig. Tapi pastinya biaya kuliah dokter gigi di Jakarta lebih mahal dari Jogja, karena dengan peralatan dan perawatan yang sama, biaya periksa gigi di Jakarta 5x lipat lebih mahal dari Jogja.

Ada banyak cerita sebenarnya. Soal pengamen jalanan, lampu lalu lintas yang agak konyol, pasar tumpah, lagu pop dan hal kecil lainnya. Tapi aku lelah. Jam 20.00 baru sampai kos. Pengen istirahat. Malu. Baru segitu udah ngos-ngosan. Indonesia padahal masih sakit. Besok semoga aku bisa cerita.

Selasa, 08 Februari 2011

Tentang Mereka, Surga dan Mereka-Mereka

Lagi-lagi berita tentang kerusuhan menjadi tajuk utama di beberapa media di negeri ini. Mesir bergejolak setelah Mubarak menolak beranjak. Rakyat Mesir tak mau berhenti menyuarakan isi hati sampai sang Presiden meutuskan untuk mengundurkan diri. Alun-alun Tahrir menjadi saksi aksi para aktivis yang berteriak menuntut Mubarak yang mereka tuduh memipin rezim yang korup dan mau menang sendiri. Bahkan ElBaradei sang Reformis pun turun tangan setelah lama pergi dari negeri Firaun itu. Militer Mesir berjanji untuk tidak menggunakan kekerasan. Dan memang mereka menepati janji itu. Polisi sedari awal sudah menjadi musuh rakyat Mesir yang menuntut Mubarak mundur. Sempat beredar kabar bahwa massa pro-Mubarak adalah para polisi berpakaian sipil dan narapidana yang dibayar. Aneh juga karena tiba-tiba massa ini muncul dan menyerang massa anti-Mubarak, sedangkan polisi tidak sebiji pun ada di tempat kejadian. Padahal sebelumnya setiap ada aksi protes, para polisi selalu siaga menjaga aksi.

Gejolak Mesir ada jauh di sana. Bahkan saya pun tak tahu berapa jarak dan waktu yang harus ditempuh untuk sampai ke sana. Saya juga tak tahu kenapa Mubarak tiba-tiba bisa menjadi sangat jahat sekali di mata saya.

Setelah berita tentang Mesir memenuhi kolom di surat kabar dan beranda di Facebook, kini giliran kelompok Islam radikal yang berjejal-jejal. FPI lagi-lagi yang beraksi. Kelompok yang mengaku siap berada di garda depan untuk membela agama Islam menuru mereka ini menyerang dan membunuh anggota Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Jawa Barat. 4 manusia kehilangan nyawa dan puluhan lainnya luka-luka akibat bentrok atas nama agama. FPI memang sudah berulang kali melancarkan serangan kepada mereka yang mereka anggap melanggar ajaran Islam menurut mereka. Salah satunya tentu adalah Ahmadiyah. Saya tidak tahu Ahmadiyah itu seperti apa, yang saya tahu mereka percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah mursyid mereka. Kepercayaan ini tentu membuat berang anggota FPI yang memang garang, sebab nabi agama Islam adalah Muhammad. Alhasil, kaum Ahmadiyah menjadi bulan-bulanan FPI, tanpa ada satupun polisi yang menjadi penengah. Padahal ketika ada demonstrasi mahasiswa kecil-kecilan saja mereka langsung pro-aktif memukuli dan menendang pantat para mahasiswa yang sebagian besar terancam DO itu. Polisi malah berdalih bahwa mereka sudah berusaha mengamankan warga Ahmadiyah, tetapi mereka malah bersikeras mempertahankan rumah dan kepercayaan mereka. Konyol juga, siapa sih yang mau rumah mereka diacak-acak, kepercayaan mereka diinjak-injak? Apa mau warga Palestina diamankan karena Israel mengancam akan terus menyerang mereka?

Belum selesai masalah di Pandeglang, kini Temanggung pun ikut berkabung. 3 gereja dibakar, gedung pengadilan dirusak, mobil polisi dijadikan bangkai oleh massa FPI. Aksi ini terjadi ketika berlangsung persidangan penistaan agama yang melibatkan Antonius Richmond Bawengan di pengadilan negeri Temanggung. Antonius didakwa melecehkan agama-agama di Indonesia, terutama Islam, lewat selebaran yang ia bagi-bagikan. Massa muslim radikal sedianya akan berujuk rasa di depan pengadilan, namun entah kenapa tiba-tiba mereka menjadi beringas.

Sudah sedemikian parahkah kemanusiaan orang-orang itu? Apa harus merusak, menginjak-injak dan bahkan membunuh untuk mengatakan bahwa mereka salah? Di mana pemerintah?

Mungkin pemerintah memang harus memberikan sebuah pulau secara sukarela kepada mereka yang memang ingin menjalankan hukum yang mereka anggap benar. Biar mereka memerintah sendiri, biar mereka menerapkan hukum mereka sendiri, biar mereka saling membunuh sendiri. Persetan dengan ancaman disintegrasi. Lebih baik mereka mendirikan negara sendiri daripada selamanya meneror manusia-manusia lain yang mereka anggap sebagai babi. Membunuh untuk masuk surga sudah tertanam dalam otak mereka masing-masing yang entah mungkin sudah tidak lagi berada di tempat yang semestinya. Apabila memang benar bisa masuk surga setelah membunuh orang-orang yang mereka anggap tai, saya tidak akan pernah mau masuk surga. Bisa-bisa saya bertemu mereka dan dibunuh di sana, karena saya adalah tai.

Kamis, 06 Januari 2011

Mau Jadi Polisi

Seorang bapak sedang bermain bola dengan putranya di pekarangan rumah. Putranya masih berumur 7 tahun, gemuk, suka bermalas-malasan.
"Dik, kalo udah gede pengen jadi apa?," tanya sang bapak.
"Mau jadi polisi, Pak?"Adik menjawab.
"Kenapa mau jadi polisi? Jadi polisi susah lho, tiap hari bangun pagi, lari-lari, ga boleh males-malesan," lanjut bapak.
"Kemarin Adik liat polisi gemuk di jalan kayak Adik, kerjanya cuma berdiri di pinggir jalan sambil ngliatin kendaraan pada macet. Kan enak, Pa,"Adik menjawab sambil tertawa riang.

Minggu, 21 November 2010

sUbKULtuR

karena subkultur di Indonesia tidak lahir dari sejarah sebuah kesadaran kelas terhadap sistem yang menindas mereka. Mereka cuma meniru apa yang menurut mereka cukup merepresentasikan keeksisan mereka.

Menurut saya, segala bentuk aksi dan busana yang ditampilkan oleh masyarakat subkultur Indonesia tak lebih dari usaha untuk mengeksiskan diri. Tentunya dengan cara mereka sendiri. Hal yang sama terjadi pada fenomena alay, mereka ingin tampil menyeruak.

Bahkan, menurut saya lagi, band2 yang gloomy, kalem, dan low-profile (dalam artian tak mau diekspos) pun dengan sendirinya akan menjadi eksis karena mereka dikenal gloomy, kalem, dan low-profile.

Subkultur imitasi Indonesia (Punk) pernah dibahas di Kompas kalau tidak salah tahun 2005, saya lupa. Indonesia emang susah sih. Liat aja Fast Food yang di Amrik jadi makanan cepat saji yang muncul karena orang2 butuh makanan yang cepat disantap oleh karena kesibukan tingkat tinggi mereka, di Indonesia jadi makanan mewah yang tak sembarang orang bisa menyantapnya. Di Amrik, Fast Food itu makanan yang murah sekaleeee...kelas pekerja yang biasa memakannya...

Kembali ke masyarakat subkultur Indonesia. Saya kira Indonesia emang baru bisa mencapai tahap meniru. Karakter masyarakatnya berbeda dengan masyarakat subkultur asli dari Inggris/Amerika. Kearifan lokal dianggap terlalu kolot dan tidak keren. Orang2 memilih beli sepatu Macbeth untuk mengeksiskan ke-Vegan-an mereka. Atau orang2 memilih pakai sepatu Vans karena mereka adalah Skater. Dan parahnya, Indonesia adalah surganya produk KW!! Orang2 kelas menengah ke bawah yang tak mampu dan tak mau beli produk ori lebih memilih produk KW daripada membeli produk lokal. Ada 2 macam produsen lokal. Produsen yang tau subkultur dan produsen yang buta subkultur.Namun, saya lihat produk lokal (so called distro products) dari produsen penyuka subkultur emang terlampau mahal juga bagi remaja lokal kita.

Think local act global kali ya...whatever lah...tapi seyogyanya sih think about local, fuck the global! berpikir demi masyarakat setempat, rusaklah tatanan global dengan membawa kawan2 lokal. Mana mampu anak pekerja bangunan penyuka Youth of Today beli celana seharga 400ribu? mungkin karena ekonomi juga sih, sebagai negara dunia ke-3, ekonomi kita kalah jauh dari negara2 maju di sana. Kurs mata uang yang paling menentukan. Kalo menurut saya sih, di Indonesia dijual sepantasnya dan selayaknya, di luar sono disesuain ama kantong mereka yang tebel karena posisi mata uang mereka yang emang lebih tinggi dari kita.

Dan yang amat parah lagi, produk2 lokal lain emang murah, tapi kualitasnya NOL BESAR...ni sebenernya yang harus digarap. Produsen lokal ini ga kenal subkultur, hanya kenal cara mendapatkan uang banyak...

Kearifan lokal Indonesia terlalu lembut untuk dijadikan alat melawan tatanan sosial kita. Kita kan terkenal sebagai bangsa yang ramah...ayo, budaya asing silakan masuk, kita terima semuanya....hahahaha
Keren mana? Pake Converse Chuck Taylor KW 150ribu atau pakai selop jawa 25ribu?hehehehe....kalo pake selop buat hang out bisa dikatain ndeso...hahaha

Jumat, 15 Oktober 2010

Malam*

Semerbak harummu tak bisa kubau
Entah wangikah kamu
Tapi kau indah
Benar hilangkan gerah

Waktu slalu bawamu padaku
Temani ku slalu
Lepaskan lelah
Sejenak reda amarah

O cahayamu sejukkan hati
O wajahmu buatku bermandi girang

Aku mau waktu ini tiada pernah berlalu
Aku mau waktu ini terpatri selamanya untukku

Seandainya kau tahu betapa cemas hatiku
Bisa esok bertemu?
Aku menanti
Terus tanpa berhenti

O kapankah kita segera bertemu?
O cepatlah terik ini cepatlah menjadi debu

Biar tak utuh tak apa
Separuh cukup buatku
Sabit pun tak mengapa

O bulanku
bunuh saja mentari temanmu
o bulanku
temani malamku slalu

o bulanku

*lirik

Minggu, 03 Oktober 2010

Jalan itu sudah dipersiapkan bagimu

Malam ini
Bulan penuh
Bersinar memancarkan kuning cahaya
Awan sedikit malu menemani

Kau berdiri
Sendiri
Mengais-ais jati diri

Tiga jalan terbuka lebar di depan
Satu beraspal biru di kiri-kanan pohon hijau berdiri
Di sebelahnya jalan berkarpet merah mahal
Gersang tanah bukannya tak mau pergi darinya
Yang terakhir
Jalan penuh kerikil
Becek karena hujan semalam
Tak ada aspal tak juga karpet mahal

Sinar bulan menerangi ketiganya
Seakan ibu teladan yang tak mau berpilih kasih
Setiap jalan dikiriminya secercah kuning

Mau kemana kau?
Jalan itu sudah dipersiapkan bagimu
Buku petunjuk pastinya sudah kau dapatkan
Kata-kata penuntun pun pasti tak mungkin kau lewatkan

Hari ini memang berat
Kemarin pun juga tak ringan
Esok pastinya tak semulus yang kau bayangkan

Jalan itu sudah dipersiapkan bagimu
Tak peduli kau mengingkari
Atau kau tak meyakini

O jalan itu sudah siap
Cahaya kuning bulan sudah meruap

Jangan hanya merantai kakimu di persimpangan jalan
Berlarilah temukan apa yang mereka tak bisa dapatkan

Bukalah jalur baru
Satukanlah ketiga jalan itu

Bakarlah buku!
Lupakanlah kata-kata mereka itu!

Minggu, 26 September 2010

Musik dan Sastra

Siapa bilang sastra dan musik, khususnya musik pinggiran, tak bisa berjalan berdampingan? Musik pinggiran di sini berada di dalam konteks musik yang bertitel sidestream yang menyuarakan perlawanan pada musik populer yang lebih mainstream. Intinya, musik yang dianggap terlalu bising, aneh, absurd, atau apapun itu sehingga membuatnya agak sulit (atau sangat sulit) diterima masyarakat umum. Namun maaf, bukan musik tradisional yang dimaksud. Keterbatasan pengetahuan menjegal niat hati berargumentasi. Kita akan melihat sebuah fakta yang membinarkan mata sebab ternyata banyak musisi yang dipengaruhi oleh karya sastra di dalam musik mereka.

Menengok ke belakang, kedekatan dua genre seni ini tercatat dalam sejarah perjalanan karir Pink Floyd yang menyelipkan beberapa karakter dalam novel Animal Farm karya George Orwell ke dalam album Animals (1977). Tiga karakter yaitu babi, anjing, dan domba diculik dari novel fenomenal itu untuk kemudian diberi kehormatan untuk menyuarakan kritik terhadap keadaan masyarakat Inggris yang kala itu didominasi oleh Margaret Thatcher dan Mary Whitehouse. Bahkan sebelum terciptanya Animals, Pink Floyd telah terlebih dahulu mengadopsi satu judul bab dari The Wind in the Willows karya Kenneth Grahame untuk album mereka The Piper at the Gates of Dawn tahun 1967.

Di tempat lain, Led Zeppelin lewat hentakan musik metal nan cadas, secara eksplisit menyebutkan dua nama dalam The Lord of the Rings karya J.R.R. Tolkien yaitu Mordor dan Gollum melalui Ramble On yang dimuat di album Led Zeppelin II pada tahun 1969. Demikian bunyinya:

Twas in the darkest depths of Mordor I met a girl so fair, but Gollum, and the evil one crept up and slipped away with her

Sementara itu, lagu Killing an Arab yang disenandungkan oleh The Cure ternyata diilhami oleh The Stranger karya peraih Nobel Sastra tahun 1957, Albert Camus. Tuxedomoon, sebuah band New Wave/Post Punk dari Inggris bahkan menjadikan The Stranger sebagai judul lagu karena mereka sangat terinspirasi oleh novel ini. Ketika Tuxedomoon membawakan lagu ini, mereka seakan membacakan narasi sebuah novel lewat musik.

Di negeri sendiri, Homicide menjadi tokoh utamanya. Lewat serangan rap hip hop radikal ala The Last Poets dan Public Enemy, mereka cerdas menyuarakan kritik dengan topik politik, despotisme, hingga fundamentalisme agama. Band asal Bandung yang kini menjadi almarhum ini menyisipkan metafora mitos sisipus di dalam salah satu lagunya, Prosa Tanpa Tuhan. Ucok sang ujung tombak yang punya nama keren Morgue Vanguard memang mempunyai hobi membaca. Novel fiksi hingga interpretasi ideologi banyak dikunyah oleh Ucok yang juga gemar menyuarakan tantangan pada isu Neoliberalisme. Tak heran, metafora-metafora dan karakter-karakter yang terdapat di dalamnya digunakan oleh Homicide untuk menyampaikan pesan pada para penikmat setia mereka. Ketahuilah, Senjakala Berhala yang ada di dalam album The Nekrophone Dayz bila di dalam bahasa Inggris kurang lebih bemakna The Twilight of the Idols, dan itu adalah sebuah judul buku karya Nietzsche yang ditulis pada tahun 1888! Yang lebih kentara, Homicide secara gamblang menggambarkan kedekatan mereka dengan karya sastra melalui musikalisasi puisi Sajak Suara karya Wiji Thukul, seorang pujangga asal kota Solo yang dihilangkan oleh rezim Orba akibat suara vokalnya yang menentang pemerintahan otoriter kala itu. Satu lagi, dengarlah Barisan Nisan. Sebuah sajak yang diberi nafas nada dan dibawakan dengan suasana mencekam seakan-akan tengah mengumandangkan orasi penuh kemarahan.

Efek Rumah Kaca yang kemunculannya dianggap menodai banalitas musik pop Indonesia lewat lirik kritis sarat nuansa sastra yang mengganggu kestabilitasan lirik roman picisan band-band pop mainstream mungkin menjadi salah satu band Indonesia yang sangat sastra. Cholil sang gitaris yang juga merangkap vokalis adalah seorang penggemar berat karya-karya Iwan Simatupang. Kebetulan, dia juga yang menjadi penulis lirik lagu-lagu Efek Rumah Kaca. Di salah satu wawancara dengan media online, Cholil menyebutkan bahwa Iwan Simatupang dan Putut EA mempengaruhi proses penulisan lirik-lirik lagu Efek Rumah Kaca.

Selain beberapa band di atas, mungkin masih ada banyak lagi band-band pengalun musik pinggiran yang dipengaruhi karya sastra dalam musik mereka. Entah itu di Eropa, Afrika, atau negara-negara di Pasifik sana, pasti ada kita temui karya sastra yang berdamai dengan seni musik pinggiran. Sastra dan musik, dua anak seni yang memang indah untuk dinikmati.

Tabik

Minggu, 05 September 2010

Putu Oka Sukanta, Penyair Dunia, dan Kanonisasi Sastra Indonesia

Putu Oka Sukanta, Penyair Dunia, dan Kanonisasi Sastra Indonesia

oleh
Asep Sambodja


Dalam buku Voices of Conscience: Poetry from Oppression yang disunting Hume Cronyn, Richard McKane, dan Stephen Watts (1995), dihadirkan 150 penyair dunia yang pernah mengalami represi ataupun dikucilkan di negaranya masing-masing. Di antara penyair dunia yang terdapat dalam buku itu adalah Bertold Brecht, Paul Celan, Anna Akhmatova, Adonis, Wole Soyinka, Ho Chi Minh, Reza Baraheni, Pablo Neruda, Usman Awang, Oscar Wilde, dan Putu Oka Sukanta—satu-satunya penyair yang mewakili Indonesia. Dalam buku tersebut dimuat dua puisi Putu Oka Sukanta, yakni “Time” dan “Walking Along the Path”. Berikut saya kutip bagian pertama dari puisinya yang berjudul “Time”.


time despatched a whip
made from the teeth of a stingray’s tail
a cutting edge, supple and strong
time took hold of it
and cracked the air with it
like a blacksmith pounding
a hammer into steel
it gagged my lips
and wiped the dripping blood
from the streams which creased my skin
where had the human values gone
the prison guard who lifted the broken body
shed tears
under the dark umbrella sprinkled with lights
ripped by a crescent moon rising from the grave
i hid behind the shadows
inside my own head
at that time
the time
when human life was as cheap as a gutter rat’s
hunted down by hungry dogs

(dari “Waktu” Putu Oka Sukanta, diterjemahkan Keith Foulcher)



Putu Oka Sukanta mengekspresikan perasaan ketertindasannya selama dipenjara oleh Rezim Orde Baru selama sepuluh tahun (1966-1976). Ia merasakan diperlakukan tidak adil oleh penguasa Orde Baru karena ia ditahan tanpa melalui proses pengadilan. Ia bersama ratusan ribu orang yang berideologi komunis ataupun yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Rezim Soeharto. Pembantaian massal yang dilakukan Soeharto dan algojo-algojo Orde Baru mengakibatkan sedikitnya 500 ribu orang meninggal. Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) Sarwo Edhie Wibowo pernah mengklaim telah membunuh tiga juta orang PKI. Namun, hingga saat ini tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas pembantaian massal itu.

Saya menilai puisi Putu Oka Sukanta dalam Voice of Conscience itu merupakan refleksi atas peristiwa yang dialaminya ketika Soeharto naik ke tampuk kekuasaan. Penyiksaan yang dialaminya di dalam penjara Orde Baru diungkapkannya dengan menggunakan metafor waktu. Dalam adegan penganiayaan tanpa perikemanusiaan itu semuanya bisa berubah, kecuali waktu. Dalam situasi semacam itu, seorang terdakwa atau terperiksa tidak banyak memiliki pilihan. Jika dia mengikuti kemauan pemeriksa (interogator), maka dia akan dijanjikan hidup yang lebih baik, yang juga berarti mengkhianati kawan-kawan perjuangannya sendiri. Jika dia tetap bungkam dan tidak mengikuti kemauan interogator dengan alasan memegang teguh idealisme dan keyakinan hidup, maka yang akan ditemuinya adalah siksaan demi siksaan yang tidak jelas kapan akan berakhir. Putu Oka Sukanta termasuk orang yang memegang teguh keyakinannya, dan ia pun mengalami siksaan cambukan ekor pari. Namun, kata-kata yang terungkap dari puisi “Waktu” (Time) terasa lebih dalam, lebih kaya makna. Biasanya orang yang menderita dalam penjara akan menuliskan kepahitannya dan siksaan yang dideritanya dalam penjara dengan amarah yang brutal. Tapi, dalam puisi Putu Oka Sukanta tampak bahwa ia sudah berdamai dengan waktu yang terus berjalan, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini.



Dalam buku This Prison Where I Live yang disunting Siobhan Dowd (1996), puisi Putu Oka Sukanta, “In My Cell” juga diterbitkan bersama karya para sastrawan dunia seperti Pramoedya Ananta Toer, Alexander Solzhenitsyn, Wole Soyinka, Reza Baraheni, Vaclav Havel, Irina Ratushinskaya, Kim Dae-Jung, Nien Cheng, dan Milovan Djilas. Buku tersebut diterbitkan oleh asosiasi penulis internasional PEN (Poets, Playwrights, Essayists, Editors, Novelists). Sastrawan Indonesia diwakili oleh Pramoedya Ananta Toer dan Putu Oka Sukanta. Berikut saya kutip puisi “In My Cell”.

In My Cell

I’m like water
settling down after a shake
letting the foam escape
allowing the sediment to form
filtering out the impurities
on a clear bright morning
I’m like water
settling down after a shake
look within
at the clarity ringed by mist
the figure appearing in its wholeness
it’s no longer just anyone at all
I’m like water
settling down after a shake
the darkness withdraws
the light shines outward:
no longer just for anyone at all

(dari “Dalam Sel” Putu Oka Sukanta, terjemahan Keith Foulcher)

Dalam puisi “In My Cell”, Putu Oka Sukanta menggunakan metafor air. Ia menyamakan dirinya dengan air. Ketika perasaannya tidak menentu, apakah karena perasaan jengkel terhadap penguasa Orde Baru atau perasaan yang tidak menentu karena tidak berdaya terhadap congkaknya kekuasaan Orde Baru, Putu Oka menganalogikan dirinya seperti air keruh. Ia ingin mengendalikan emosi atau perasaannya itu dengan mengendapkan ampas, mengendapkan amarah, sehingga hatinya menjadi jernih dan bening kembali. Saya menilai puisi ini sangat impresif dan sublim, ia berusaha menghilangkan diri untuk tidak menjadi siapa-siapa agar bisa survive dari penganiayaan yang tak berperikemanusiaan semasa dalam penjara Orde Baru (Sambodja, 2010: 68-69).

Kenapa hanya karya Putu Oka Sukanta dan Pramoedya Ananta Toer yang mendapat perhatian PEN Internasional? Kedua buku di atas terbit pada 1995 dan 1996, saat Soeharto masih berkuasa di Indonesia. Sebenarnya cukup banyak sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang terus menulis di zaman Orba. Hanya saja mereka tidak bisa secara leluasa mempublikasikan karya-karyanya. Di antara sastrawan Lekra yang terus menulis di zaman Orba adalah Pramoedya Ananta Toer, Putu Oka Sukanta, Hersri Setiawan, S. Anantaguna, dan beberapa nama lagi. Karya-karya mereka baru bisa muncul setelah Soeharto lengser dari kekuasaannya selama 32 tahun sejak ia mendapat secarik kertas Supersemar pada 11 Maret 1966.

Putu Oka Sukanta adalah satu pengecualian. Pada 1982, ia sudah menerbitkan kumpulan puisi Selat Bali dan didistribusikan ke toko-toko buku. Dalam sebuah pembicaraan akrab di Taman Sringanis, Cipaku, Bogor, Putu Oka Sukanta mengatakan bahwa buku Selat Bali sempat di-display di Toko Buku Gunung Agung. Namun, satu hari kemudian buku-buku itu sudah bersih dari toko buku. Tentu saja bukan karena buku itu laris di pasar, melainkan karena “diamankan” Rezim Orde Baru. Dalam buku itu, Joebaar Ajoeb memberikan kata pengantar yang ditulis dengan kalimat yang pendek-pendek, yang mencerminkan penerbitan buku ini dibuat dalam situasi yang belum nyaman sama sekali. Joebaar Ajoeb menulis demikian:

Orang gila, biasa bicara sendiri. Padanya tidak ada masalah seni bertanggung jawab. Ia tidak pedulian. Ia fasik.Tapi, penyair bukan. Sekali lagi bukan orang gila. Dan bukan pula ia manusia luar biasa. Maka itu ia bukan monyet. Ia manusia. Biasa. Biasa saja. Hanya ia peka. Ia tahu pahamkan arti kata dan hidup. Ia mahfum. Kalau ia berkata. Ia berkata pada manusia. Pada cakrawala kebudayaan dan peradaban. Dan sebagaimana juga orang biasa, penyair pandai berhitung. Membuat perhitungan melalui angka-angka bahasa. Puisi dalam hal ini.

Selat Bali Putu Oka ini ada mengatakan sesuatu. Tentang pengalaman batin pikiran dan hatinya. Tentang alur sejarah yang ia lalui.

(Sukanta, 1982: vii)

Apa yang dikatakan Joebaar Ajoeb dengan terburu-buru itu ada benarnya. Ia ingin mengatakan bahwa melalui Selat Bali Putu Oka Sukanta ingin mengatakan pengalaman hidupnya yang telah ia lalui, yang telah menjadi catatan sejarah. Barangkali sejarah yang tengah dicatat Putu Oka Sukanta sangat berbeda dan bertolak belakang dengan sejarah resmi yang dibuat oleh cendekiawan Orde Baru. Perspektif yang digunakan Putu Oka Sukanta adalah perspektif korban ketidakadilan Rezim Soeharto. Puisi pertama yang ditulisnya dalam buku ini, “Tanah Air Hanya Satu” meninggalkan perenungan bagi pembaca bahwa sejatinya kita sebagai bangsa Indonesia berada pada tanah air yang sama. Namun, kenapa Putu Oka Sukanta dan orang-orang Lekra, Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), bahkan PKI dianggap sebagai the others? Puisi ini menggugat kepada penguasa kenapa ia diperlakukan sebagai orang yang berbeda.



Tanah Air Hanya Satu


tanah air hanya satu
di sini atau di luar situ
tak terpisah ruang dan waktu
kulihat bulan dari lobang kunci
kau lihat bulan di tepi pantai
bulan, lihat bulan itu juga pada tanah air
hanya satu
pada ruang berbeda
satu waktu
jantung
berdetak
di dada
kita
adakah
suaranya berbeda?

Karenanya sungguh mengherankan ketika majalah Horison dan The Ford Foundation menerbitkan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi pada 2002, nama Putu Oka Sukanta lenyap dari buku yang diperuntukkan bagi siswa-siswa sekolah menengah di Indonesia itu. Tidak hanya nama Putu Oka Sukanta saja yang hilang, nama-nama penyair Lekra lainnya seperti Agam Wispi, Hr. Bandaharo, S. Anantaguna, Amarzan Ismail Hamid, Hersri Setiawan, dan Sutikno W.S. juga lenyap dari khazanah sastra Indonesia. Jika kita telusuri lebih dalam, ternyata hilangnya nama penyair-penyair Lekra dari “Kitab Puisi” itu karena adanya perbedaan ideologi antara editor buku itu dengan penyair-penyair Lekra. Adapun editor buku Horison Sastra Indonesia adalah Taufiq Ismail (ketua), Hamid Jabbar, Herry Dim, Agus R. Sarjono, Joni Ariadinata, Jamal D. Rahman, Cecep Syamsul Hari, dan Moh. Wan Anwar. Apakah Putu Oka Sukanta dan kawan-kawan Lekra tidak memiliki “tanah air” yang sama dengan para editor—yang ketuanya dari kelompok Manifes Kebudayaan (Manikebu)—itu? Saut Situmorang (2009) mengatakan bahwa eksistensi sebuah teks sastra sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar teks baik dalam publikasi maupun resepsi atasnya.

Bagaimana Lekra dihilangkan dari sejarah sastra Indonesia? Apa yang bisa dibaca dari pelarangan buku Lekra Tak Membakar Buku karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (2008) pada 23 Desember 2009? Bukankah itu berarti bahwa Rezim Soesilo Bambang Yudhoyono juga mengukuhkan tangan besi Orde Baru? Masih adakah kebebasan berekspresi (freedom of expression) jika pelarangan buku masih terjadi di era reformasi ini? Pelarangan buku Lekra Tak Membakar Buku dan Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa (2008) memperlihatkan bahwa penguasa tidak bisa melihat kenyataan pada 1965-1966 dari perspektif lain. Pelarangan buku ini sekaligus memperlihatkan bahwa Lekra belum mendapat tempat di “tanah air” yang dibayangkan Putu Oka Sukanta.

Saya berasumsi bahwa akar persoalan dihilangkannya Lekra dari sejarah sastra Indonesia dan dilarangnya buku Lekra Tak Membakar Buku adalah belum dicabutnya Tap MPRS No. XXV/1966 yang menjadikan PKI dan underbow-nya sebagai partai terlarang. Meskipun Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengusulkan pencabutan Tap MPRS itu pada 2000, namun wakil rakyat di parlemen tidak menggubrisnya. Belum dicabutnya Tap MPRS ini mengakibatkan kita sebagai bangsa yang “bertanah air satu” akan terus berputar-putar pada masalah ini dari tahun ke tahun tanpa ada jalan keluar. Ketika reformasi mulai bergulir, usulan agar dilakukan rekonsiliasi antara negara dengan korban tragedi 1965-1966 dilakukan. Namun, rekonsiliasi itu sendiri hanya bisa terjadi jika posisi kedua belah pihak sejajar. Menurut Pramoedya Ananta Toer, rekonsiliasi baru bisa dilakukan setelah proses hukum terhadap korban tragedi 1965-1966 dilakukan (Sambodja, 2010).

Politik kanonisasi sastra di manapun akan menimbulkan persoalan. Kanonisasi tidak bisa memuaskan semua pihak yang berbeda agama, ideologi, golongan, komunitas, aliran, pemikiran, dan sebagainya. Meskipun demikian, upaya yang “lebih dewasa” seperti yang dilakukan Tim Redaksi Amanah Lontar ketika menerbitkan Antologi Drama Indonesia 1859-2000 (2006)—yang menghadirkan naskah drama serepresentatif mungkin—perlu dilanjutkan. Kalaupun dalam penerbitan antologi drama itu timbul masalah mengenai royalti ekonomi (bukan royalti moral), maka penyebab munculnya masalah itu, yakni keteledoran dalam hal administrasi, harus dihindarkan.

Buku Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (2010) yang saya tulis sebenarnya bermaksud untuk memberi ruang yang sama kepada seluruh sastrawan Indonesia, baik dari kelompok Manikebu, Lekra, Lesbumi, maupun kelompok lainnya. Dengan diberinya ruang kepada sastrawan Lekra dalam sejarah sastra Indonesia, diharapkan tidak ada diskriminasi terhadap kelompok manapun. Saya sebagai generasi muda membayangkan masa depan sastra Indonesia yang lebih sehat, yang tidak lagi ada dendam sejarah. Apa yang telah terjadi pada masa lalu menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi generasi muda sekarang ini dan generasi yang akan datang. Berkaitan dengan hal itu, saya berharap agar Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono tidak melakukan pelarangan buku lagi, dan mencabut pelarangan buku Lekra Tak Membakar Buku beserta buku-buku lainnya. Pelarangan buku mengakibatkan kita tidak bisa secara utuh membaca sejarah kita sendiri.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menjelaskan bahwa setiap karya sastra merupakan hasil perenungan dan pemikiran sastrawannya. Dengan demikian, setiap karya sastra merupakan aset budaya yang sangat berharga bagi sebuah bangsa dan negara. Demikian pula dengan karya-karya para sastrawan Lekra yang ditulis pada rentang waktu 1950-2010, karena semuanya itu merupakan aset bangsa yang tak ternilai harganya.


telah penat aku menyaksikan pembunuhan 32 tahun
tapi pasphotoku masih juga diganti kepala kambing hitam
penyair membakukannya dalam perjalanan
katakata, titik dan koma mewariskan kegelisahan
kembali menjadi manusia
pucuk bambu menari dalam topan

(“Perjalanan Penyair” Putu Oka Sukanta).

***

Bibliografi

Cronyn, Hume, Richard McKane, dan Stephen Watts (ed.). 1995. Voices of Consciences: Poetry from Oppression. Manchester: Iron Press.

Dowd, Siobhan (ed.). 1996. This Prison Where I Live. London: Cassell.

Ismail, Taufiq dkk. (ed.). 2002. Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi. Jakarta: Horison.

Sambodja, Asep. 2010. Historiografi Sastra Indonesia 1960-an. Jakarta: Bukupop.

Situmorang, Saut. 2009. Politik Sastra. Yogyakarta: [Sic].

Sukanta, Putu Oka. 1982. Selat Bali. Jakarta: Inkultra.

_____. 1999. Perjalanan Penyair: Sajak-sajak Kegelisahan Hidup. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

_____. 2000. Tembang Jalak Bali: Puisi Tertindas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rabu, 01 September 2010

Tahanan




Seorang tahanan tak bisa melihat dunia selama tembok abu-abu yang retak dan pecah di sana sini tetap berdiri tegak, masih menghalangi kedua matanya.


Seorang tahanan tak bisa melihat dunia selama tembok abu-abu yang retak dan pecah di sana sini namun tetap berdiri tegak itu mempunyai kawat berduri di atasnya.


Seorang tahanan tak bisa melihat dunia selama ia temukan pekatnya asap yang semakin hari semakin mewarnai langit yang dulunya putih dan cerah kian, mengaburkan pandangannya.


Seorang tahanan tak bisa melihat dunia selama sipir masih memegang kunci sel yang memisahkan ia dari kehidupan kupu-kupu yang terus bermetamorfosis tanpa menghiraukan cacing yang populasinya semakin habis karena tak dikaruniai mata.


Seorang tahanan tak bisa melihat dunia kendati ia mengemis, berteriak meronta, atau bahkan mengancam membunuh diri selama sipir menganggapnya gurauan belaka.


Seorang tahanan akan selamanya menjadi tahanan yang tak bisa melihat dunia apabila sang hakim yang mempunyai kuasa terus mengetok palu memberi tanda bahwa hukuman akan menjadi lebih lama.


Seorang tahanan hanya akan bisa menikmati dunia apabila ia menggunakan segala cara, membuat lubang di dinding penjara walau dengan tangan kosong semata tak peduli perih yang dirasa.