Kamis, 27 Oktober 2011
Aku Bangsat!
Tak mau kenal ayah,ibu, hidup sembarang
Bukan sengaja
Bukan dibuat-buat
Kami sengaja dibuat
Ayah...
Ibu...
Kenapa kau sisakan sampah dalam hidupku?
Sampaikan salamku pada Kakek dan Nenek, sampaikan salamku pada orangtua mereka, pada orangtuanya orangtua mereka pula, pada semua orang yang ada sebelum mereka
Aku hidup sengaja dibuat!
Menderita karena asap!
Tiap hari bercumbu tanpa boleh merasakan nikmat!
Bangsat!
Aku harus bayar utang yang kalian tinggalkan
Bukan aku tak sayang,
Bukan aku mencoba menjadi durjana,
Tapi kalian memang bangsat!
Uang kalian tak ada gunanya kalau aku harus membayar utang dengan nyawa
Uang kalian bawa saja semua!
Aku takut menjatuhkan spermaku ketika bersenggama
Aku takut anakku kelak murka pula
Aku takut disebut bangsat!
Aku mau semua hidup demi hidup sesama
Biar anak kita tak bisa menjadikan kita bangsat
Agar anak kita tak dijadikan bangsat
Oleh anak-cucunya
Selasa, 25 Oktober 2011
Uang Adalah Candu
bisakah kamu membeli surga?
aku tak punya uang
tapi setauku di surga tak perlu uang
lalu kenapa kamu bekerja?
kenapa ada bank?
kenapa orang mengumpulkan uang?
bukankah semua orang ingin ke surga?
Rabu, 06 Juli 2011
Polangtas Menjadikan Aku Terdakwa
Hari ini aku resmi menjadi terdakwa. Bukan terdakwa atas kasus pembunuhan. Pun bukan pengeboman atau pelecehan Presiden. Hari ini aku resmi menjadi terdakwa setelah "ditangkap" polisi tilang lalu lintas (polangtas). Begini ceritanya: Di sore yang gelap oleh awan mendung itu aku sedang dalam perjalanan menuju Harapan Baru, Bekasi. Dengan baju dimasukkan ke celana jins biru, berjaket hitam, dan bersepatu Vans KW I aku melintasi jalan di depan mal Ambassador yang macet bukan kepalang. Ketika hendak tiba di mulut terowongan casablanca yang konon seram di kala malam setelah lega telepas dari macet tiba-tiba aku diberhentikan oleh seorang petugas polangtas. Ternyata ada 3 atau 4 polangtas di situ, kalau aku tidak silap, yang sedang mengadakan razia.
"Selamat sore, Pak, kami dari dinas penindakan lapangan, bisa lihat surat-suratnya?" sapa seorang polangtas yang berwajah garang, legam. Tak ada kumis, tak ada jambang. Hanya keringat yang mengalir ke sana ke mari. Resamnya besar namun sedikit gembul. Seragam coklatnya ditutup rompi berwarna hijau. Aku tak dapat melihat siapa namanya.
Aku keluarkan SIM dan STNK dari dompet. Setelah mengecek surat-surat si polangtas lalu berucap, "Bapak tidak menyalakan lampu kendaraan." "Ini pasal dan dendanya," lanjutnya sambil menunjukkan satu halaman dari buku saku yang berisi pasal-pasal.
"Wah, iya ... maaf, Pak, lupa," kataku setelah terbelalak melihat jumlah denda yang seratus ribu rupiah itu.
"Jadi, gimana ini?" sepertinya ia mengajak "berdamai"..
"Saya ga bawa duit, Pak," aku berkelit berharap lepas dari cengkeraman manusia berseragam ini. "Ada cuma tujuh ribu ni," kataku sambil menunjukkan dompet yang memang kosong.
"Ga bisa, dua puluh ribu atau dua puluh lima ribu deh, cepetan, itu ada Komandannya, saya mau nangain yang lainnya," ia memburu.
Terkejut dengan ucapannya, aku berkata, "Emang kenapa kalo ada Komandan, Pak?"
Ia tak menjawab. "Ya sudah, ikut sidang aja," katanya sambil cepat-sepat menulis sesuatu di lembar surat tilang.
"Wah, Pak, ini tujuh ribu saya punyanya," ucapku sekali lagi mencoba berkelit.
"Udah, sini tanda tangan," dia menyodorkan surat tilang yang sudah terisi lengkap.
"Ga mau, Pak," aku berontak.
"Kamu ini .... Ya sudah, nih, tar diurus di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan," ia mengembalikan STNK sambil melampirkan surat tilang yang ia tanda tangani sendiri. "XX" tanda tangannya. SIM-ku disita.
Aku terima STNK tapi masih membujuk agar SIM-ku dikembalikan. Kucoba sodorkan uang 20ribu. Cuma sebagai pancingan, tak rela uangku melayang begitu saja ke kantong polangtas ini.
"Kamu mau nyuap ya?" ia berteriak.
Dalam hati aku tertawa. Bukankah ia tadi yang minta uang? Dari 100ribu turun menjadi 20ribu atau 25ribu.
"Ga bisa, urus di pengadilan, sudah terlanjur dibuatin surat tilang," katanya sambil melihat uang yang berwarna hijau ini. Nada sesal terdengar dari ucapannya. Ia kemudian cepat-cepat pergi untuk "menangani" pengendara lainnya.
Aku kesal. "Sial!" umpatku dalam hati.
Tak sampai semenit kemudian sang Komandan menghampiri. "Pak, motornya diminggirin dikit, tar ketabrak lho," katanya sambil tersenyum kecil.Sang Komandan regu razia ini wajahnya cool dan ganteng. Mirip anggota DPR seandainya ia berjas dan berdasi. Usianya mungkin 50-an. Tampak lebih makmur ketimbang polangtas yang menyita SIM-ku tadi.
Aku tak menghiraukan peringatannya.Kutuntun motorku melewati Pak Polangtas yang berwajah garang tadi. Ingin kufoto ia lalu kumasukkan ke catatan yang sudah kurencanakan akan kutulis ini. Namun sayang tak dapat kuambil gambarnya.
"Ngapain kamu? Banyak ulah aja," hardiknya ketika aku hendak mengambil gambarnya dengan kamera hp yang cuma 3,2 megapiksel ini. "Sudah sana, pergi," ia mengusirku.
"Loh, salah saya apa, Pak?" aku tak mau pergi.
"Ngapain foto-foto itu?" ia membentak. Ia kemudian membelakangiku, tak mau ku ambil gambarnya.
Aku lalu mengambil gambar dengan diam-diam. Polangtas lain yang berkacamata hitam mengawasiku. Aku tahu matanya mengarah padaku walau ia memakai kacamata hitam. Alhasil, jepretanku cuma satu. Itu pun nge-blur.
Aku lalu melanjutkan perjalanan dengan hati mendongkol. Kecewa dengan sikap para pengayom masyarakat itu. Memang aku pernah ditilang juga dulu. Tapi dulu jelas salahku: naik motor melawan arus. Sekarang? Lampu motor jadi alasan? Memang peraturan soal lampu motor harus menyala di siang hari sudah jadi hukum yang berlaku. Tapi aku tetap merasa ada yang aneh dengan peraturan ini. Kalau tidak salah, peraturan ini diadopsi dari negara-negara maju di mana pengendara motor adalah minoritas. Pengendara motor wajib menyalakan lampu di siang hari ketika musim dingin tiba. Hal ini berguna sekali bagi para pengendara kendaraan beroda empat karena mereka akan menjadi lebih awas oleh adanya cahaya dari lampu motor. Tapi ini Indonesia, Bung! Negara dunia ke-3, kalau tak mau dikatakan terkebelakang. Surga bagi para produsen motor. Siang bisa terik setengah mati.
Apakah angka kecelakaan lalu lintas benar bisa berkurang? Beberapa orang mengeluh kalau lampu di siang hari malah menyilaukan mata. Aki juga cepat soak. Boros energi. Dan kalau memang terbukti bisa mengurangi, kenapa Polri tidak menghubungi produsen kendaraan bermotor beroda dua agar memasang lampu nyala otomatis ketika pengendara menyetarter kendaraanya ((Daytime Running Lights )? Nanti tinggal pengendara yang mengatur tinggi-rendah arah sorotnya saja, lampu ikut menyala ketika mesin menyala.
Tentang si polangtas, kenapa tak sedari awal ia menegur soal lampu? Mungkin lain ceritanya kalau ia berkata begini: "Maaf, Pak, Anda tidak menyalakan lampu kendaraan di siang hari. Bisa saya lihat surat-suratnya?" Jadi jelas kesalahan dari awal. Dalam kasusku ia mengecek dulu surat-surat dulu. Ketika surat-surat didapati lengkap barulah ia mendaratkan dakwaan soal lampu. Wajarlah kalau aku menduga ia cuma cari-cari alasan. Dan soal "penyuapan" itu? Ha-ha-ha. Konyol sekali. Sekarang polangtas jadi punya "amunisi cadangan". Kalau surat dan onderdil kendaraan lengkap, lampu motor jadi sasaran. Aku berani bertaruh sebagian besar pengguna motor di Indonesia tidak menyalakan motor di siang hari. Entah disengaja entah tidak.
Sekianlah. Surat tilang sudah di tangan. Pengadilan menanti tanggal 17 Juni ini. "Cuma 20ribu kok di pengadilan," kata sang Komandan sebelum aku pergi meninggalkan TKP.
Ketika gurunya sewenang-wenang, Soe Hok-gie pernah berkata: "Hari ini adalah hari ketika dendam mulai membatu". Seturut kata Hok-gie aku pun merasa demikian terhadap para polangtas ini. Mereka lebih mementingkan razia (yang hanya dilakukan oleh 3-4 petugas) padahal jalan di depan mal Ambassador yang mungkin cuma 50 meter dari TKP sedang macet semacet-macetnya. Tak secuil pun polisi ada di sana mengatur lalu lintas. Cih!
Jumat, 20 Mei 2011
Batja Toelis

Ah, lama kali tak ku goreskan sesuatu di sini. Hidup ini memang laknat. Hidup ini ironi. Lari sana-sini. Putar otak tiada henti. Dan manusia cuma bisa menghakimi. Laknat kau hidup!
Sudah kuselesaikan koreksian buku Pramoedya Ananta Toer Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid 1. Satu-satunya buah karya PAT yang bukan fiksi. Buku yang mengibakan, menyedihkan. Sedih sekali membaca pengalaman para tapol semasa pengkerdilan di Pulau Buru. Badan mereka dikerdilkan. Pun jiwa mereka. Beruntung PAT ada di sana. Beruntung bagi mereka. Kekuatan tulisan PAT sungguh mengena. Sedih di hati tak urung menyapa.
Namun kesedihan menerpa tak hanya ketika membaca bagaimana para tapol disiksa, dianiaya, dihina, dibuat tak berdaya. Sedih terasa ketika mengetahui para tentara yang bebuat semaunya. Mereka mencuri atas nama Pancasila. Mereka menyiksa atas nama Pancasila. Mereka membunuh atas nama Pancasila. Dan, agama. Menyedihkan sekali bukan? Bukan, bukan sedih yang itu. Bukan sedih terus menangis karena iba. Bukan sedih terus menangis karena terluka. Mereka menyedihkan. They're pathetic!
Begitu tak berharganya nyawa manusia sehingga bisa dimain-mainkan seperti itu. Disuruh buka lahan dengan tangan kosong. Bangun barak dengan tenaga tak berbayar. Apel. Pukul satu-satu. Tendang satu-satu. Bunuh satu-satu. Menyedihkan membayangkan para tapol dibangunkan d tengah malam. Disuruh kumpul berbaris berbanjar. Buka baju buka celana kala udara dingin Buru menerpa. Gelap malam tak bisa menutupi muka para tentara yang beringas, murka. Para tapol satu per satu ditendang kakinya. Dipukul perutnya. Dipopor kepalanya. Hey, bukankah senjata itu dibeli untuk melindungi rakyat? Sinting benar yang memberi perintah para tentara ini. Tentara sekali diberi perintah oleh atasan, benar atau salah harus dilakukan. Tentara tak boleh mengkritik atasan. Kalau mengkritik haram hukumya. Bisa hilang nyawa sia-sia. Masih mendingan PKI dengan KOKnya. Walau Tan Malaka akhirnya dicap Trotsky-nya Indonesia juga. Meski Njoto pun tak diperbolehkan ikut serta dalam rencana.
Orde Baru kala itu memang sedang sekuasa-kuasanya. Titah Jendral Suharto haruslah terlaksana. Kalau tidak buruk jadinya. Sepertinya yang sedang mejelma jadi raja jawa bukan Sukarno. Cuma raja yang satu ini konon seorang petani juga. Aku tak merasakan bagaimana hebatnya Orde Baru. Sewaktu reformasi menggema dan mencapai puncak pada 1998 aku sedang kelas 5. Waktu itu terkesima bagaimana sebuah kota bisa porak-poranda hanya dalam hitungan hari. Bukan hari, jam. Aku yang sangat nakal sewaktu kanak-kanak ikut serta, menjarah dan melempar rumah gedongan yang di luarnya tertulis kata-kata "Pribumi asli". Tak tahu aku apa arti kata-kata itu. Yang aku tahu orang-orang di sekitarku, para Mas-mas dan Pakdhe-pakdhe, pada melempari rumah, menjarahi toko, membakari mobil di jalanan. Aku ikut menjarah. Dapat beras sekarung, tapi aku tinggal. Berat, tak mampu kubawa.
Baru-baru ini konon diadakan survei dan hasilnya sungguh mengejutkan: Survei melibatkan 1.200 orang, 36,54 persen responden dari seluruh Indonesia memilih Suharto sebagai presiden favorit. Sinting! Aku memang tidak "hidup" di jaman Orde Baru. Tapi dengan membaca buku-buku soal Lekra, PKI, Udin wartawan Jogja yang malang itu, Wiji Thukul, aku tahu bagaimana Suharto memperlakukan bangsa ini. Bangsa yang konon kaya raya ini. Masih konon bagiku. Mungkin yang tahu pasti cuma Freeport, Exxon dan para anggota DPR yang lebih suka bangun gedung baru di Jakarta daripada sekolah baru di Manokwari sana. Sebentar, Manokwari di Indonesia kan ya?
Seandainya semua orang baca puisinya Chalik Hamid buat Suharto. Lain kali aku akan tulis di sini puisi yang merupakan "Doa" dari Chalik Hamid, sastrawan Lekra, yang hidupnya terlunta-lunta berkat program "Proyek Kemanusiaan, Repelita, P4, dan lainya buat sang Jendral yang selalu tersenyum itu. Akan sangat lebih baik lagi kalau mereka baca buah-buah karya PAT.
Hari ini sudah dapat Nyanyi Sunyi Seorang Bisu jilid 2. Semoga bisa terlaksana. Terlaksana sebaik-baiknya.
Minggu, 13 Maret 2011
coba main-main ke YahooAnswer di forum Agama dan Kepercayaan,isinya taik kucing semua...saling menghujat..tapi ada juga yang tak mau ambil pusing..agamaku adalah agamaku dan agamamu adalah agamamu...aku makin muak pada agama dan kepercayaan...fundamentalisme religius dan fundamentalisme sekuler sama saja...taik kucing...
apalagi mereka yang memimpikan dunia yang homogen...sebenarnya mereka ga perlu bermimpi...cukup kumpulkan orang yang punya mimpi sama, bikin pernyataan tertulis pada pemerintah, minta satu pulau biar dihuni mereka sendiri, yang sistem pemerintahannya mereka anggap paling benar...ancam saja, apabila pemerintah ga mau beri pulau, mereka bakal bunuh semua orang yang berseberangan keyakinannya..kalau pemerintah ga mau beri pulau, berarti memang bebal tu pemerintah..revolusi saja, seperti yang kalian teriakkan itu...kalau berani sih...idealis aja dari dulu onanis mulu...kebanyakan diskusi..kalau revolusi, ya bikin organisasi yang merantai, koordinasi...fundamentalis kok kompromis..taik kucing...